empty
05.11.2026 03:13 PM
EUR/USD: Mampukah Partai Demokrat menghentikan perang dengan Iran?

Indeks dolar AS turun untuk hari kedua berturut-turut seiring pasar yang mencerna hasil pemilu paruh waktu. EUR/USD juga kembali menguji level resistance di sekitar 1,1260 untuk hari kedua (Bollinger Band bagian atas pada grafik harian). Pembeli kemarin sempat mencoba menembus level tersebut (level tertinggi intraday mencapai 1,1274), tetapi sesi ditutup di sekitar 1,1228.

This image is no longer relevant

Para trader bereaksi bukan hanya terhadap kekalahan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu, tetapi juga terhadap pernyataan pertama pasca-kemenangan dari para pemimpin Partai Demokrat. Pernyataan yang paling menggerakkan pasar menyangkut sensitifnya "isu Iran". Kemarin, pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, berjanji akan mengakhiri perang dengan Iran dan menyatakan bahwa sebagian Republikan juga memiliki pandangan serupa. "Rakyat Amerika tidak tahu sebenarnya untuk apa kita berperang di Iran," jar Schumer.

Perlu diingat bahwa perpecahan terkait Iran di kubu Partai Republik sudah terjadi bahkan sebelum pemilu paruh waktu. Pada akhir September, empat senator Republik (Susan Collins, Rand Paul, Thom Tillis, dan Lisa Murkowski) bergabung dengan Demokrat mendukung sebuah resolusi untuk menghentikan aksi militer terhadap Iran tanpa otorisasi Kongres — sebuah langkah yang pada akhirnya gagal meraih jumlah suara yang dibutuhkan di Senat.

Peta politik sekarang telah bergeser. Partai Demokrat menguasai kedua majelis, yang memberikan daya tawar lebih besar kepada pihak penentang kelanjutan aksi militer dalam menghadapi Gedung Putih. Prospek tersebut menekan dolar: meningkatnya kemungkinan berakhirnya perang Iran mengurangi premi risiko geopolitik dan menurunkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar. Hal itu juga meredakan risiko energi yang belakangan ini menopang ekspektasi inflasi AS. Kontrak berjangka minyak terus melemah setelah penurunan tajam kemarin: Brent berada di kisaran $93–95/barel dan WTI sekitar $86–87; kedua benchmark tersebut jatuh lebih dari 8% pada sesi sebelumnya ke level terendah sejak 31 Agustus.

Singkatnya, pasar bereaksi dengan kuat terhadap kemenangan Partai Demokrat serta pernyataan-pernyataan awal yang menjadi sorotan luas dari partai tersebut.

Namun, pertanyaan kuncinya: benarkah Kongres dapat menghentikan perang di Timur Tengah, atau pernyataan-pernyataan ini lebih banyak bernilai retoris saja?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Di satu sisi, presiden adalah panglima tertinggi dan dapat memerintahkan operasi militer. Di sisi lain, kewenangan presiden tidak tak terbatas: Konstitusi memberi Kongres wewenang untuk menyatakan perang dan mengendalikan pendanaan militer. Hukum AS juga membatasi durasi tertentu aksi militer yang dilakukan tanpa persetujuan eksplisit Kongres. Namun dalam praktiknya, penegakan pembatasan tersebut selalu menjadi bagian dari perselisihan berkepanjangan antara Gedung Putih dan Kongres.

Secara teoretis, Demokrat dapat mengesahkan undang-undang yang memaksa pemerintahan Trump mengakhiri operasi militer terhadap Iran. Namun, ada satu "tetapi" besar: hak veto presiden. Untuk membatalkan veto diperlukan mayoritas dua pertiga di kedua kamar — ambang batas yang tidak dimiliki Demokrat. Jadi tanpa dukungan signifikan dari Partai Republik, mereka tidak dapat memberlakukan undang-undang semacam itu.

Dengan kata lain, bahkan dengan menguasai kedua kamar, Demokrat tidak dapat secara sepihak memaksa Trump mengakhiri perang.

Secara teoritis, ada tuas parlementer lain — misalnya resolusi yang tidak mengikat — tetapi kekuatan hukumnya untuk benar-benar memaksa diakhirinya permusuhan sangat diragukan. Sejak putusan Mahkamah Agung dalam perkara INS v. Chadha, gagasan untuk menghindari veto presiden lewat manuver prosedural menjadi meragukan secara hukum. Karena itu, tidak realistis untuk mengharapkan Demokrat menghentikan perang hanya dengan satu resolusi.

Tuas yang jauh lebih efektif adalah anggaran. Kongres dapat menolak mengalokasikan dana tambahan untuk operasi tersebut atau menetapkan pembatasan pembiayaan atas aktivitas tertentu. Presiden tidak dapat begitu saja membelanjakan uang jika Kongres menolak menganggarkannya: veto dapat menggagalkan sebuah undang-undang, tetapi tidak memberi hak kepada eksekutif untuk secara sepihak mengalokasikan dana.

Namun, di sini pun ada komplikasi. Pertama, dana yang sudah disetujui tetap tersedia, sehingga pemerintahan dapat mempertahankan operasi untuk sementara waktu dengan menggunakan sumber daya yang ada. Kedua, upaya membatasi pendanaan berpotensi memicu kebuntuan berkepanjangan antara Kongres dan Gedung Putih yang merembet ke bagian-bagian lain dari anggaran federal. Jadi, tampaknya tidak mungkin untuk mengakhiri perang dengan cepat lewat tekanan anggaran.

Meski demikian, perang tetap dapat berakhir tanpa paksaan legislatif, melalui keputusan di dalam Gedung Putih sendiri.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa hasil pemilu memperkeras debat internal terkait kebijakan Iran. Beberapa pejabat mendorong eskalasi serangan untuk bernegosiasi dari posisi yang lebih kuat; yang lain berpendapat bahwa kampanye harus dihentikan. Menurut sumber WSJ, Menteri Pertahanan, Pete Hegseth, cenderung melanjutkan operasi, sementara Wakil Presiden, JD Vance, dan Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, lebih condong pada penyelesaian diplomatik. Menariknya, Vance di muka umum mengaitkan kekalahan Partai Republik dengan dampak politik dari perang tersebut.

Bagi dolar, perpecahan internal ini lebih penting daripada satu lagi resolusi Kongres yang bersifat simbolis. Ini menunjukkan bahwa isu pengakhiran kampanye sedang diperdebatkan di pusat kekuasaan — Gedung Putih — tempat keputusan kebijakan yang menentukan diambil. Masih belum jela pihak mana yang akan menang. Jelas bahwa meneruskan perang makin mahal secara politik bagi Trump, tetapi itu tidak berarti ia siap mengakhirinya dengan syarat apa pun. Bahkan, kekalahan pemilu dapat mendorongnya melakukan serangan baru untuk menunjukkan kekuatan dan merebut kembali inisiatif.

Karena itu, situasi di Timur Tengah akan sangat memengaruhi sentimen pasar dan permintaan terhadap dolar. Jika Trump kembali melancarkan serangan besar-besaran di wilayah Iran untuk memaksakan kesepakatan di bawah syarat AS, dolar kemungkinan akan mendapat dukungan dari naiknya permintaan aset safe haven dan harga minyak yang lebih tinggi. Jika opsi deeskalasi yang menang, dengan presiden diyakinkan untuk berkompromi, dolar akan menghadapi tekanan menurun tambahan, termasuk terhadap euro.

Untuk saat ini, para pembeli EUR/USD pada dasarnya sedang memasang harga berdasarkan harapan berakhirnya konflik dalam waktu dekat. Namun, ekspektasi saja tidak cukup untuk menopang tren naik yang berkelanjutan — tak mengherankan, pasangan ini gagal menembus level resistance 1,1260 selama dua hari berturut-turut. Kenaikan yang berkelanjutan memerlukan tindakan konkret dari Gedung Putih yang menegaskan kesediaan untuk deeskalasi. Untuk hari ini, pertanyaan tentang akhir perang masih terbuka — dan begitu pula pertanyaan mengenai arah pergerakan euro berikutnya.

Recommended Stories

Tidak bisa bicara sekarang?
Tanyakan pertanyaan anda lewat chat.