Lihat juga
21.09.2026 09:43 AMRasa takut membuat segala sesuatu tampak lebih besar daripada kenyataannya. Kekhawatiran tentang dimulainya siklus pengetatan The Fed memaksa S&P 500 untuk terkoreksi, namun indeks utama tersebut dengan cepat pulih dan kembali menguat. Tekanan negatif terhadap saham akibat kenaikan suku bunga memang jelas terlihat, tetapi arah pergerakan dalam jangka pendek sangat bergantung pada satu pertanyaan kunci: apakah perekonomian mampu bertahan di tengah biaya pinjaman yang lebih tinggi?
Dinamika S&P 500 dan imbal hasil Treasury
Sekilas, pengetatan moneter membuat kredit menjadi lebih mahal, melemahkan aktivitas bisnis, mendorong imbal hasil obligasi naik, dan meningkatkan biaya bagi perusahaan. Hal tersebut menekan daya beli rumah tangga dan laba korporasi. Namun dalam praktiknya, suku bunga yang lebih tinggi di seluruh dunia justru menjadi sinyal kekuatan ekonomi. Dan fakta bahwa S&P 500 tidak mengalami kejatuhan sebagai respons terhadap awal siklus kenaikan suku bunga The Fed mengindikasikan bahwa para investor masih menaruh kepercayaan pada saham dan perusahaan yang menerbitkannya.
Memang, Goldman Sachs berpendapat bahwa tidak ada alasan untuk menyebut laba perusahaan sebagai sebuah gelembung. Laba tumbuh sekitar 30% pada masing-masing dua kuartal pertama, menandai salah satu kinerja terkuat dalam sejarah. Bank tersebut melihat kenaikan yang terjadi sebagai dampak dari kuatnya ekonomi AS dan ledakan investasi AI. Hal ini mendorong peningkatan produktivitas, yang kemudian diterjemahkan menjadi penerimaan pajak yang lebih tinggi dan pertumbuhan PDB yang lebih cepat.
Dinamika laba S&P 500
Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan laba korporasi akan melambat, namun tidak akan anjlok. Kinerja kuat para emiten S&P 500 yang dibarengi dengan kondisi ekonomi yang solid menciptakan peluang bagi kenaikan indeks untuk berlanjut, terlebih lagi karena para investor belum pernah sepesimis ini terhadap saham AS sejak lama.
Menurut survei American Association of Individual Investors, sekitar 53,3% responden saat ini mengidentifikasi diri sebagai pihak yang bearish dan hanya 28,8% yang bullish, level bullish terendah dalam setahun. Selisih 24,5% antara pihak bearish dan bullish merupakan yang terluas sejak Mei 2025 dan jauh di atas rata-rata jangka panjang sebesar -6,5%. Para responden menyebut tingginya harga energi dan dimulainya kebijakan pengetatan Fed sebagai alasan utama pesimisme mereka terhadap prospek S&P 500.
Jelas, pasar minyak yang bullish dengan risiko Brent melonjak di atas $120/bbl akan terus menekan The Fed untuk melakukan pengetatan secara agresif dan akan membatasi potensi kenaikan S&P 500. Meski demikian, indeks yang luas ini didukung oleh fundamental yang kuat: perekonomian yang tangguh dan laba korporasi yang mengesankan.
Dari sisi teknikal, grafik harian menunjukkan bahwa S&P 500 telah membentuk sebuah bar dengan bayangan bawah yang panjang, menandakan kekuatan bull dan mendukung gagasan untuk menambah posisi beli yang telah dibuka pada pantulan dari level 7.560.
You have already liked this post today
*Analisis pasar yang diposting disini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan Anda namun tidak untuk memberi instruksi trading.


